Bagaimana Seharusnya Menggunakan Sosial Media?

Pernah mendapatkan berita yang bersifat bombastis di sosial media? pernah membaca berita yang kita anggap unik di whatsapp atau facebook? atau bahkan pernah share berita yang kita anggap penting untuk dibagikan ke teman dan saudara kita?

Mungkin diantara kita pernah mengalami itu semua. Berita yang masuk di akun sosial media milik kita seakan menjadi sebuah info menarik dan penting untuk disebarkan. Kadang kita menganggap berita itu penting untuk dibagikan, agar saudara kita waspada terhadap suatu isu. Apalagi jika berita tersebut terkait dengan keamanan, politik, dan isu sensitif lainnya, jempol dan jari kita seakan tak tahan untuk menyentuh layar atau menekan tombol gadget atau komputer kita.

Bagaimana seorang muslim harus bersikap ketika mendapatkan berita? 

Di era globalisasi ini, dunia betul-betul terasa kecil seperti bola. Berita dari ujung dunia dalam hitungan detik dapat disebarkan ke seluruh penjuru, melalui situs-situs internet maupun jejaring sosial. Akan tetapi, tidak semua berita yang disebar tersebut benar dan baik untuk dikonsumsi masyarakat. Terkadang berita itu bohong belaka, mengandung unsur fitnah dan hasutan, dan ada pula yang membuat kerdil hati kaum Muslimin. Amat disayangkan, ada di antara pengguna dari kaum Muslimin yang mudah mengutip dan menyebarkannya kepada yang lain, tanpa memperhatikan kebenaran dan madharat sebuah berita. Tulisan ini akan membahas etika-etika yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim dalam menyebarkan berita berdasarkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hendaknya seorang Muslim berhati-hati dalam berbicara dan berbuat, jangan mudah menyebarkan setiap berita yang didengar atau yang dibaca, tanpa mengetahui kebenarannya, karena perbuatan tersebut madharatnya lebih besar dan tercela.

Seorang Muslim jika ingin menyebarkan suatu berita, hendaknya ia mengecek kembali kebenarannya sebelum menyebarkannya. Mungkin saja, berita tersebut bersumber dari orang fasik atau pendusta atau musuh Islam atau sekedar dugaan belaka, yang efek negatifnya mungkin bisa merugikan si penyebar berita itu sendiri atau kaum Muslimin.

Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohanmu,  yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(Al-Hujurat/49:6)

Ketika mendapatkan suatu berita, janganlah kita terburu-buru menyebarkannya. Mari kita bersikaplah bijak dan tenang, karena sesungguhnya sikap tenang itu terpuji. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

التَّأَنَّي مَنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Sikap tenang itu dari Allah Azza wa Jalla, sedangkan sikap tergesa-gesa adalah dari setan. (Hadits hasan, Lihat Ash-Shahihah no. 1795)

Berkaitan dengan hal tersebut, persyarikatan Muhammadiyah melalui Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah mengeluarkan panduan bersosmed yang baik untuk kaum muslimin pada umumnya. Diantara seruannya adalah bahwa dalam bermedia sosial WargaNet Muhammadiyah senantiasa berlandaskan pada Akhlaqul Karimah sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Selain itu, WargaNet Muhammadiyah menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah amar ma’ruf nahi munkar dengan hikmah dan mauizhah hasanah.

Tulisan tersebut bisa diunduh di sini
Akhlaqul Sosmediyah WargaNetMu

Sumber:
1. Akhlaqul Medsosiyah Warga Muhammadiyah
2. Petunjuk Nabi dalam Menyebarkan berita, Kotbahjumat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *